TP Jazz Perluas Ekosistem Musik Jabar

Press Conference TPJF 2026 – Istimewa

Bisnishotel.id, BANDUNG — TP Jazz Management memasuki fase baru dalam pengembangan ekosistem musik di Jawa Barat dengan membawa program utamanya keluar dari The Papandayan Hotel Bandung untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

Langkah tersebut diwujudkan melalui “TP Jazz Universe: The Greatest Movies Soundtrack” yang digelar pada 4 September 2026 di Mason Grand Ballroom, Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan.

Ekspansi ini tidak sekadar memindahkan lokasi pertunjukan. TP Jazz Management bersama Kota Baru Parahyangan membangun kolaborasi yang menghubungkan musik, komunitas, industri kreatif, dan pariwisata dalam pengembangan ekosistem musik yang berkelanjutan.

Founder TP Jazz Management sekaligus General Manager The Papandayan, Bobby Renaldi, mengatakan perluasan program tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang TP Jazz dalam memperluas dampak musik di Jawa Barat.

“Kami melihat bahwa musik memiliki kemampuan untuk menciptakan koneksi yang melampaui panggung pertunjukan. Karena itu, setelah sebelas tahun berkembang di The Papandayan, kami merasa saatnya membawa semangat TP Jazz ke ruang yang lebih luas,” ujar Bobby dalam keterangan tertulis kepada Bisnishotel.id, dikutip Senin (7/9/2026).

Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan upaya memperluas kontribusi TP Jazz terhadap pengembangan ekosistem musik dan destinasi melalui kerja sama dengan pihak yang memiliki visi serupa.

Musik Jadi Penggerak Kawasan

Kolaborasi TP Jazz dengan Kota Baru Parahyangan sejalan dengan pendekatan community-based development yang menjadi salah satu fondasi pengembangan kawasan tersebut.

Marketing Manager Kota Baru Parahyangan Joseph Ijong Dachlan mengatakan pembangunan kawasan tidak lagi hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga kualitas interaksi dan pengalaman masyarakat.

“Community-based development adalah tentang bagaimana sebuah kawasan bertumbuh bersama masyarakatnya. Seni, budaya, dan musik memiliki kemampuan untuk membangun koneksi antarindividu, memperkuat identitas komunitas, serta menciptakan ruang interaksi yang bermakna,” kata Joseph.

Menurutnya, kolaborasi dengan TP Jazz Management relevan dengan visi pengembangan Kota Baru Parahyangan karena dapat membuka ruang bagi seni, budaya, dan komunitas untuk tumbuh bersama.

Kesamaan visi tersebut kemudian melahirkan TP Jazz Universe sebagai platform kolaboratif yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik dan seni, tetapi juga membuka peluang bagi berkembangnya aktivitas budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis pengalaman.

Untuk program perdana di luar The Papandayan, TP Jazz Universe: The Greatest Movies Soundtrack dipilih karena memiliki daya tarik lintas generasi. Konser tersebut menghadirkan interpretasi baru terhadap sejumlah soundtrack film ikonik yang telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Dwiki Dharmawan Soroti Kekuatan Musik

Maestro jazz Indonesia Dwiki Dharmawan menilai soundtrack film memiliki kekuatan untuk mempertemukan musik dengan pengalaman personal penonton.

“Soundtrack film adalah salah satu bentuk musik yang paling universal. Ketika sebuah lagu dimainkan, yang hadir bukan hanya melodinya, tetapi juga kenangan, cerita, dan emosi yang menyertainya,” kata Dwiki.

Dia menilai kekuatan tersebut membuat konser soundtrack memiliki daya tarik luas karena musik dapat menjadi ruang pertemuan bagi berbagai generasi.

Rangkaian ekspansi TP Jazz tersebut akan berlanjut melalui The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Bandung dengan tema “Sound to the Soul.”

Tema tersebut merefleksikan pandangan bahwa musik tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan. TPJF 2026 diarahkan untuk menghadirkan pengalaman yang membangun hubungan emosional antara musisi, karya, dan audiens.

TPJF 2026 Hadirkan Musisi Lintas Genre

Pada hari pertama, TPJF 2026 akan menghadirkan Dadaks, SND, Arumtala, SFG, SimakDialog, Barry Likumahuwa feat. Ambon Jazz Rock, Batavia Collective, Lalahuta feat. Rieka Roslan, Smoove, Diskoria feat. Andien, Ruth Sahanaya, serta The Gentlemen’s Club yang diperkuat Adikara, Teza Sumendra, dan Bilal Indrajaya dalam tema “Tribute to Koes Plus”.

Sementara pada hari kedua, penampil yang dijadwalkan hadir antara lain 5 Petani, Barry Likumahuwa feat. TPJC Winner Players, Andre Dinuth Group feat. Matthew Sayersz, Mahalini, T-Five x Melly Mono, Freedom Jazz Society yang terdiri atas Winky Wiryawan, Kenny Gabriel, Jevin Julian, Greybox, dan Rinni Wulandari.

Special project Dwiki Dharmawan feat. Dira Sugandi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra juga akan hadir dalam tema “A Night of Frank Sinatra”. Selain musisi utama, TPJF 2026 memberikan ruang bagi musisi muda, komunitas jazz, dan talenta lokal untuk tampil dan berkolaborasi.

Rangkaian festival tersebut akan berlangsung di enam panggung, yakni Kota Baru Parahyangan Stage, Ron88 Stage, Mojang Jajaka Stage, BRI Stage, TP Stage, dan Pasar Jazz.

Memasuki tahun ke-11 penyelenggaraan, TP Jazz Management melihat masa depan industri musik tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan sebuah festival. Kemampuan membangun ekosistem yang berkelanjutan menjadi bagian penting dari arah pengembangan program.

Melalui kolaborasi dengan Kota Baru Parahyangan, TP Jazz memperluas perannya sebagai penghubung antara musik, komunitas, edukasi, industri kreatif, dan pariwisata.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang menunjukkan kontribusi musik terhadap pertumbuhan komunitas, penguatan identitas kawasan, serta penciptaan nilai tambah bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Jawa Barat.

Related posts